Pages

Kamis, 02 Februari 2017

Surat Terakhir



Untukmu yang kini tak lebih jauh dari dahulu.
Tapi itu hanyalah perihal jarak. Lain halnya dengan perasaan masing-masing kita yang jauhnya tak dapat diukur dalam satuan yang lebih jauh dari kilometer. Ada yang tak sempat dan tak dapat terucap. Semoga rangkaian kata cukup mewakilinya.

-

Hei Mas, gimana kabarnya sekarang ? Gimana rasanya hidup di kota besar tanpa belenggu layaknya kerja tanpa mengenal waktu di tempatmu yang dulu ?  Sepertinya kali ini kamu bisa lebih bisa bereksplorasi dengan apa yang kamu sukai tanpa dibatasi waktu-waktu yang dulu kamu habiskan  untuk kerja rodi.
Aku boleh jujur ? Aku sebal sekali sebenarnya dengan kepindahan kamu ke sini. Waktu kamu lagi jauh-jauhnya di mana tempat kamu itu bagai hutan belantara yang kalau mau dapet sinyal itu kayaknya harus mati-matian dulu, kamu tidak semenyebalkan ini. Saat kamu lagi jauh-jauhnya, kayaknya jarak kita hanya sebatas jempol dan layar ponsel saja. Sekarang, giliran jarak kita hanya sebatas lajur commuterline jabodetabek, kamu rasanya malah semakin jauh dari yang dulu. Padahal dulu kamu dapet sinyal 3G aja susahnya kebangetan tapi ngehubunginnya terus-terusan. Sekarang, kamu yang maju-mundur selangkah sinyal udah 4G, ngehubungin malah ogah-ogahan atau memang gak mau ngehubungin lagi. Entahlah, hanya kamu yang tau. Tapi yang jelas aku tetep bersyukur sih karna setauku sejauh apapun kamu, absen terhadap Ibumu tetap jadi yang nomor satu. Baik-baik ya anak bungsu, kamu harapan terakhir Ibumu. Ibadah baca bukumu semoga tak mengalahkan ibadah wajib lain yang wajib ditunaikan.
Maafin aku, ya, Mas yang kalau nelfon gak pernah banyak cerita layaknya kamu yang selalu cerita semua rutinitas kamu. Aku ini pasif, dan aku yakin kamu sadar itu makanya kamu masih sabar sama aku. Aku berusaha baca buku yang genrenya gak aku banget. Cuma buat pengen tau kamu itu gimana, dan ya bacaanmu iku lho mas aku ndak sanggup. Berat banget. Cukuplah aku dengan kemelankolisan aku dan cukuplah kamu dengan keidealisan kamu.
Maafin aku juga Mas yang kayaknya aku gak sanggup lagi buat di sini nunggu kamu. Atau mungkin kamu memang yang udah gak sanggup lagi sama aku. Entahlah. Tapi apapun yang terjadi, i adore you. Maybe later i will tell my child about you. How you try and struggle to achieve your dreams and to make all the things right like you said. Even though we just remembered as a friend.
Satu lagi, kata-kata kamu yang akan selalu aku inget "Sabar aja, kamu nggak tahu dan nggak akan pernah tahu makna sabar nrima apa yang diberi sama Yang Di Atas Sana. Tapi itu selalu baik. Insya Allah.". Yap, Innallaha Ma'ashobirin , kan ? :) Dan sepertinya aku sudah selesai bersabar dengan kamu. Jaga diri ya Mas. Terus belajar, inget Finland nunggu kamu.

It's my last present I dedicated to you. I wrote this letter a couple month ago because I just want to deal with my heart with all I have for you. I have been missing you all the time. I have been crying everyday. Maybe after this ,I will be not writing about you anymore. It's my time to stop. Thank you for the good times, fond memories and your feelings. Now you're no longer here, so am i.
To get to know you this far is one of the best part of my life.

............

Happy Birthday to you. Hope your special day will be special as you are. May happiness be with you always.

............

With love,
A.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terimaksih sudah bersedia membaca. Silahkan tulis kritik-saran-pujian-pertanyaan di kolom komentar :)