Pages

Minggu, 31 Januari 2016

Terima kasih, telah hadir kembali.

Seamat sore,

Kala kali pertama aku kembali menulis surat setelah sekian lama tak pernah menyusun rangkaian kata yang mereka bilang adalah surat cinta. Sore ini aku kembali lagi. Kembali menulis, kembali membuka kisah manis, dan kembali mengukir kisah cinta yang semoga saja romantis.

Maafkan aku karna aku tlah membuatmu begitu tak menentu dengan melarikan diri dari kisah yang pernah kita satukan dulu. Membuatmu menjadi seorang diri mengenang kata-kata puitis yang pernah ku tulis. Menjadikan aku sesadar-sadarnya perempuan yang begitu egois.

Terima kasih, karna telah hadir dalam hidup perempuan yang dipenuhi kisah mengharu biru dengan masa lalu yang begitu abu-abu sepertiku. Adalah kamu, yang bersabar menunggu meski aku berlalu, yang kembali meraih tanganku saat aku sudah hampir jatuh, yang bersedia menggenggam tanganku kemana aku ingin melaju.

Terima kasih telah kembali menjadikan kita satu. Menjadikan kamu satu-satunya lelaki yang aku tunggu dan menjadikan aku perempuan kedua yang kamu rindu setelah ibumu. Mulai saat ini mari kita sama-sama melafalkan doa-doa baik untuk kemudian didengar oleh langit dan tercatat dengan baik. 

Aku akhiri surat ini dengan senyum bahagia mendapatimu hadir kembali. Terima Kasih, lelaki baik.


With Love,
Alif

#30HariMenulisSuratCinta Hari Ke-1

Jumat, 22 Januari 2016

Dirawat Ketika Jatuh Sakit

Setahun lebih yang lalu, sekitar satu bulan sebelum seminar tahap satu dimulai saya terserang penyakit typus. Awalnya saya pikir hanya gejala yang tujuh hari sudah bisa sembuh. Tapi ternyata sampai dengan dua minggu saya tidak dapat bangun dari tempat tidur. Akhirnya orang tua saya memutuskan untuk check-up ke rumah sakit setelah sebelumnya sudah sempat ke klinik. Di rumah sakit saya harus menunggu sekitar 15 menit lalu dokter melakukan penanganan kepada saya. Belum beranjak dari tempat tidur, dokter meminta izin untuk melakukan cek darah. Saya sudah pasrah dokter mau melakukan apa. Menunggu hasil cek darah keluar saya tak henti-hentinya keluar masuk toilet untuk membuang air liur. Entah mengapa sepertinya produksi air liur saya pada saat itu terlalu berlebih sehingga membuat saya harus sering-sering meludahkannya. Kondisi saya pun lemas-selemas-lemasnya karena selama sakit tak ada makanan yang bisa diterima perut saya, selain obat-obatan. Hasil lab. keluar dokter menyatakan saya terserang typus dan kekurangan cairan (saya memang tidak pernah minum air putih) sehingga harus dirawat. Behubung kamar sudah penuh saya disarankan untuk melakukan rawat jalan.

Keesokan harinya kondisi saya semakin parah, yang saya rasakan hanya uring-uringan, menangis, mengeluh, badan saya sudah tak terasa ada bobotnya, ditambah kondisi perut yang kosong. Orang tua saya menghubungi rumah sakit, kabar baiknya ada satu orang yang hari itu akan keluar. Bersiaplah saya untuk ke rumah sakit. Baru saja saya berdiri rasanya saya seperti melayang. Sudah tak kuat mengingjakan kaki di lantai. Akhirnya saya digendong menuju mobil untuk ke rumah sakit. Sesampainya di sana saya sudah disambut dokter dan perawat beserta kursi roda. Duduklah saya di kursi roda dan diantarkan ke kamar. Ah God, saya harus melakukan suntik lagi untuk diberikan cairan infus, cek darah lagi dan entah saya hanya ingin berbaring saja. Inilah pertama kalinya saya dirawat di rumah sakit.

Senin, 18 Januari 2016

Tentang bagaimana aku dan kamu

Perempuan dan laki-laki itu berada di lingkungan yang sama tanpa mengenal satu sama lainnya. Sebut saja perempuan itu aku dan laki-laki itu kamu. Kamu tak pernah sedikit pun terlintas dalam benakku. Tahu namamu saja tidak. Perkenalan kami dahulu mengalir begitu saja. Semua berawal dari saling sapa di sosial media, lalu bertemu kembali dan bertegur sapa memalui tatap muka.

Kamu adalah sosok laki-laki pendiam dalam dunia nyata dengan bebagai macam hal yang sepertinya lebih mudah untuk menuangkannya dalam rangkaian kata bukan suara. Berbicara seadanya dan sepentingnya saja. Aku pun bukan perempuan yang pandai berbicara dalam lingkungan yang entah bagaimana aku bisa berada di dalamnya. Jadi, bisa disimpulkan bahwa kami sama sekali jarang bertukar cerita.

Waktu berlalu.

Saat itu ada yang belum kamu tahu. Tentang bagaimana aku mulai mengagumi sosokmu. Menjadikan tulisan-tulisan singkatmu sebagai asupan yang tak pernah sehari pun terlewatkan untuk ku jadikan bahan bacaan. Tentang segala ceritamu yang tak sengaja melekat dalam ruang pikiranku. Tentang kamu yang tiba-tiba saja telah hadir dalam hati yang penuh akan kenangan masa lalu. 
Dan saat itu, sebelum kepergianmu. Semua yang belum kau tahu menjadi hal yang begitu telat diketahui dan menjadikannya sebagai hal yang berat untuk kamu melangkah pergi.

Setelah semuanya tak lagi menjadi rahasia. Kita menjadi sepasang manusia yang terikat dalam rasa dengan jarak ratusan kilometer jauhnya. Semuanya baik-baik saja sebelum akhirnya aku menghilang tanpa meninggalkan sebaris pesan perpisahan. Maaf, aku tak bisa bertahan.

Lalu, semesta menyatukannya kembali. Kali ini takdir benar benar sedang berbaik hati. Ada kata yang begitu tulus terucap olehmu dari hati. Sungguh tak ada perempuan yang tak senang mendengar hal ini. Tapi bagaimana bisa hati ini sesaat menjadi meragu, tak siap akan segala hal yang teniatkan olehmu. 

Seiring berjalannya waktu. Perasaan ragu tak lagi menyelimuti dalam diriku. Semua rasa takut seolah menghilang begitu saja dengan rasa yang berbeda dari sebelumnya. Aku ingin kamu. Ya, Kamu.
Ketika aku sudah meyakinkan diriku, kali ini berbalik kamu yang menjadi ragu. Oh semesta mengapa urusan rasa begitu sulit diterka ? Disaat kamu yakin aku malah meragu. Lalu disaat aku yang sudah yakin, berbalik kamu yang meragu. Apa perasaan memang sebercanda itu ? Mengapa perasan kita tak pernah berada dalam satu titik waktu yang tepat ? 




Minggu, 10 Januari 2016

22

Sebelum memulai menulis untuk pertama kalinya di tahun 2016, saya ingin mengucapkan Happy New Year! Walau masih gak paham sebenarnya apa yang harus diselamatkan.

Tahun baru untuk saya merupakan umur baru, berhubung jarak bertambahnya angka usia berdekatan dengan tanggal awal sebuah tahun dimulai. Tepat pada tanggal empat usia saya menjangkau angka 22. Tapi entah saya masih berasa bocah, untuk usia yang seharusnya sudah berpikir ya anggap saja fase pendewasaan saya malah masih bertingkah seenak jidat, semaunya--tapi masih dalam batas yang saya anut.