Pages

Minggu, 18 September 2016

Untukmu yang namanya selalu ku jaga dalam doa,

Untukmu yang namanya selalu ku jaga dalam doa,
Tetaplah menjadi dirimu yang sederhana. Aku mencintaimu karna kesederhanaanmu. Kamu yang tak pernah melebih-lebihkan sesuatu. Termasuk kisah-kisah perjuanganmu yang membuatku haru. Aku masih ingat bagaimana kamu menepuk pundakku sambil berusaha menghapus air mata yang tak sengaja mengalir dari mata indahmu ketika mendengar kisah yang perjuangan yang hampir sama dengan perjalananmu. Sejak saat itu, aku mencintaimu dengan ketidaktahuanku atas dirimu.

Untukmu yang namanya selalu ku jaga dalam doa,
Jarak bagiku bukanlah suatu penghalang, kabar yang tak selalu datang pun bukan merupakan cobaan. Aku, senantiasa menjagamu melalui doa-doaku. Tanganku tak cukup kuat untuk menggenggam angan yang kuciptakan, pun hatiku tak siap menanggung kekecewaan atas segala harapan yang kutumbuhkan. Namun doa akan selalu ku panjatkan. Aku ingin mencintaimu dengan ketenangan tanpa harus merasakan kepedihan yang mendalam.

Untukmu yang namanya selalu ku jaga dalam doa,
Kamu, baik-baiklah dalam menjaga dirimu. Tetaplah berjuang dalam menggapai mimpi-mimpimu, tetaplah berjuang demi mendapat apa yang selama ini kamu inginkan. Aku di sini mendoakan. Lalu, semesta mengaminkan. Semoga Allah berkenan untuk mengabulkan. Kala kamu mulai jatuh, bangkitlah, aku akan membantumu. Kala kamu telah lelah, istirahatlah, bahuku siap untuk merebah lelahmu.

Untukmu yang namanya selalu ku jaga dalam doa,
Aku pernah berkata bahwa aku akan di sini menantimu dengan hati lapang. Semoga kamu tak pernah lupa untuk berpulang.

Minggu, 24 Juli 2016

Short trip to pulau harapan

"Lif?"
"Iya ndri ?"
"Ikut yuk ke pulau harapan tanggal 28-29 mei"

Kiranya seperti itulah awal mula percakapan singkat di whatsapp dengan salah satu teman kuliah saya dulu. Saya sendiri tanpa pikir panjang langsung mengiyakan, berhubung seperrtinya pada saat itu saya lagi agak sedikit galau mungkin. Yaelah galau mulu. Padahal saya belum lihat kalender hari sabtu tanggal 28 mei itu saya bagian off atau on. Setelah dicari tahu ternyata saya giliran on, ya mau gak mau ambil cuti atau tukar hari. Berhubung saya sedang mumet semumet-mumetnya yang entah karena apa saya memutuskan untuk ambil cuti saja. Toh hilang satu cuti gak akan rugi juga.

27 Mei 2016
Setelah melewati perdebatan panjang di whatsapp akhirnya kami memutuskan untuk berangkat jum'at malam dan booking guesthouse di daerah tempat kerjanya Indri. Dikarenakan kami harus sudah sampai di meeting point pukul 05.30. Kami mengikuti opentrip bersama momotip.com dengan harga yang cukup ramah di kantong, Rp275,000 saja sudah termasuk semuamuanya.

Saya janjian dengan Tika, Tendi dan salah satu teman Tendi yang namanya Yogi. Kami berangkat dari stasiun bogor menuju stasiun gondangdia. Dalam trip ini semua persiapan yang saya siapkan begitu mendadak. Ya sebenernya saya memang gak pernah prepare jauh-jauh hari sih. Balik lagi ke cerita. Sekitar jam 22.30 kami sampai di stasiun gondangdia dan sudah ditunggu oleh indri. Lanjutlah kami melanjutkan perjalanan ke guesthouse sekitar kurang lebih 15 menit. Sesampainya di sana kami tidak langsung istirahat melainkan ribet dengan entah apa. Kami memutuskan istirahat sekitar pukul 12 malam, sedangkan Tendi dan Yogi memutuskan untuk mencari makan dan wifi yang open 24 jam.

Senin, 13 Juni 2016

Bersamamu


Bersamamu
Ku pikir hanyalah angan semu
Tapi nyatanya
Semua ada di hadapanku

Bersamamu
Satu dari ribuan doa yang pernah ku haturkan
Meminta dengan lapang untuk selalu diberikan kebahagiaan

Bersamamu
Adalah bagian kehidupan yang menakjubkan
Membuat binar mata menatap tak percaya

Bersamamu
Yang ku inginkan selalu ada
Meski jeda akan selalu tercipta di antaranya

Bersamamu
Akan ku jatuhkan hatiku dengan utuh
Tak perlu kau menimbang ragu
Harapku kini hanya satu
Bersamamu
Selalu




Minggu, 12 Juni 2016

Genggam tanganku


Tetaplah di sini
Bersamaku
Menyatukan keping hati yang sendiri
Bersama memeluk rindu yang sepi

Genggamlah tanganku
Jangan lepaskan
Meski debur keyakikan terus menghantam

Genggamlah tanganku
Dengan begitu erat
Kepadamu aku sudah pasrah terjerat

Tetaplah di sini
Jangan kau berlalu pergi
Karna aku masih teramat mencintai



Senja di antara kita



Senja menjadikan kepingan dari masing-masing kita menguap menjadi harapan
Merajut tali kasih dengan janji-janji manis di tengah warna keemasan awan

Senja. Ia adalah perantara.
Bagaimana aku tersenyum melihat keindahannya
Seindah waktu yang ku habiskan bersamamu hanya untuk mendambanya,

Senja mengisahkan kehilangan-kehilangan
Membuatku larut dalam kesedihan 
Memeluk kenangan dan memakamkan senja sendirian

Senja mengisahkan tentang harapan-harapan yang kini perlahan padam
Diselimuti semilir angin 
dan keinginan untuk saling merindu seperti dulu
saat kita masih sama-sama saling menggenggam

Sabtu, 11 Juni 2016

Pertemuan Jerawat dan Erha Clinic Bogor - 2

Yap, sesuai judulnya postingan kali ini masih mengenai jerawat dan si penyembuhnya--Erha Clinic. Kenapa sekarang saya bilang penyembuhnya ? Karena wajah saya sudah tidak ada lagi si jerawat-jerawat risih yang bikin ibu-ibu heboh.Yang jerawatan siapa yang heboh siapa. Okay, kali ini akan saya ceritakan progress bagaimana pada akhirnya si jerawat ini tidak muncul lagi hingga menyisakan bekasnya saja. Ya walaupun bekasnya juga bikin risih sih, tapi better lah. Karena ini merupakan moment terakhir post mengenai jerawat juga, saya akan memberikan progressnya berupa gambar di akhir.

Senin, 23 Mei 2016

Pertemuan jerawat dan Erha Clinic Bogor - 1

Masalah muka tak kunjung ada habisnya. Lelah ditanya perihal muka membuat saya selalu mencari tahu produk skincare dari dalam maupun luar negeri. Di Bogor sendiri ada begitu banyak skincare dari mulai Erha, Natasha, Wijaya, LBC, M3 dan lain sebagainya, Saya membuka review masing-masing dari klinik kecantikan tersebut. Ditambah melihat secara langsung teman-teman saya yang mengunakan satu dari beberapa klinik yang ada.

Sabtu, 23 April 2016.
Dengan tekad yang sudah bulat saya memberanikan diri pergi ke salah satu klinik kecantikan di Bogor. Tidak mudah untuk menentukan satu dari sekian banyak pilihan. Tapi saya memutuskan untuk memilih Erha Clinic. Sebelum saya memilih Erha saya mendapati melihat teman-teman saya update tentang produk Erha. Mereka yang menggunakan produk Erha memiliki kulit wajah yang sudah tidak diragukan lagi. Selain itu lokasinya yang tidak terlalu jauh dari rumah saya.

Minggu, 22 Mei 2016

To: My puffy cheek

Tiara Dimita. The most beautiful best friends I ever had. --Jangan kesenengan gitu bacanya.

Pertemuan saya dengan dia bermula dari tugas matematika keuangan. Jadi, setelah masa MPKMB saya dan dia disatukan di kelas Akuntansi D, kelas yang isinya mahasiswa regular dari hasil perjuangan tes memperebutkan sisa quota yang ada. Sebenarnya saya sama sekali gak tau dia siapa dan yang mana.

Satu minggu berada di AKN D, kelas kemudian di rombak lagi. Entah suatu keberuntungan atau bukan, nama saya berpindah ke AKN C. Entah bagaimana ceritanya saya bisa berteman di facebook dengan tiara, tiba-tiba dia chat menanyakan tugas matematika keuangan. Nah kan, kesan pertama kenalan aja udah gak bagus.

Rabu, 11 Mei 2016

Alif, mukanya kenapa ?

Pada kesempatan saya kali ini saya akan bercerita tentang kondisi wajah saya yang saat ini sungguh membuat kalian akan beristighfar. Sebelumnya, saya akan memberi tahu bahwa saya tidak akan memasang foto before-after layaknya para blogger skin care. Saya akan mencurahkan bagaimana kondisi saya dalam bentuk cerita. Nama-nama produk mungkin juga tidak akan saya sensor, siapa tau bisa jadi referensi. Tapi pertama-tama saya ingatkan bahwa ini yang dialami oleh kondisi muka saya. Sudah pasti akan berbeda dengan kondisi muka kalian.


Selasa, 10 Mei 2016

Random thoughts 10/05

Long time no write~
Hello fans ~

Malam ini cuma mau nulis tulisan yang gak berguna sih. Berhubung penyakit tidur malam menjelang paginya kumat lagi, kayaknya beberapa hari terakhir ini bakalan sering curhatin hal-hal gak penting yang saya alamin. Singkat cerita beberapa hari ini lagi malas sekali pegang handphone, alhasil ada beberapa bbm dan watsap yang hanya diread. Chat yang dibalas paling yang topiknya menarik minat saya, seperti curhatan yang anti-mainstream (Ps: Kalau curhatannya itu-itu lagi males juga sih nanggepinnya) eh sorry yaa :)) Jangan tanya udah makan atau belum, mending sekalian ajakin makan. Okay ?

Minggu, 10 April 2016

Setiap...

"Setiap laki-laki ingin ditunggu. Setiap perempuan ingin diperjuangkan. Setiap hati ingin diterima." 
-prawitamutia via tumblr-

Setiap laki-laki ingin ditunggu.
Karena mereka senantiasa bersiap untuk adinda yang dicintainya. Laki-laki sadar bahwa ia butuh begitu banyak persiapan sebelum pada akhirnya menemui kedua orang tua perempuan. Untuk itu laki-laki ingin ditunggu. Ia tak pernah ingin kehilanganmu, perempuan. Ia tahu begitu banyak tanggung jawab yang akan diemban nantinya. Maka dari itu laki-laki selalu berjuang. Mereka memantaskan pun mempersiapkan. Tanggung jawabnya besar. Ia akan mengambil alih tugas ayahmu. Maka dari itu, bersabarlah. Jangan lelah untuk menunggunya. Yakinlah bahwa kelak saat waktunya sudah tepat, ia, laki-laki akan segera datang menjemputmu.

Setiap perempuan ingin diperjuangkan.
Ia sadar bahwa kau, laki-laki, masihlah bukan siapa-siapanya. Perempuan tak pernah memiliki daya untuk berbuat apa-apa tentang apa yang sedang dirasa. Ia hanya memendam, berdoa, dan menunggu. Untuk itu perempuan ingin diperjuangkan. Sesulit apapun ia untuk didapatkan. Seberat apapun rintangan yang menghadang. Ia ingin tetap diperjuangkan. Karena ia akan tetap di sana, menunggu wujud kepastian yang akan datang.

Setiap hati ingin diterima.
Baik laki-laki ataupun perempuan, mereka sama sama ingin diterima. Semenyedihkan apapun masa lalunya. Serapuh apapun hatinya. Karena setiap manusia pasti memiliki kebiasaan yang mungkin saja tak menyenangkan untuk sekelilingnya. Maka saat memilih, dukunglah segala hal terbaiknya, terimalah segala kekurangannya. Hadirmu bukan untuk mengubah segalanya. Melainkan untuk melengkapi dan menyempurnakan bagian kosong yang masih belum bisa terisi saat sendiri.

Cinta itu bukan hanya aku dan kamu. Cinta itu kita. Cinta itu saling melengkapi, bukan sendiri-sendiri. Cinta itu diperjuangkan, berdua. 

Bogor, 10 April 2016
-aliflifa-

Adalah jarak

Adalah jarak yang mencipta rasa
Membuatnya terungkap tanpa menggunakan tanya
Mengubah segenap asa menjadi wujud perasaan nyata

Adalah jarak yang menyatukan kita
Tak pernah terucap gemuruh yang ada di dada
Ia mengalir begitu saja
Bahkan tanpa terucap sepatah kata
Kita memulai untuk saling mengisi ruang yang selama ini terjaga

Adalah jarak yang menjadi perantara kita
Ada harapan-harapan yang tertanam disetiap kilometer jauhnya
Ada doa-doa yang dipanjatkan dalam setiap jam waktu perjalanan

Adalah jarak yang mengajarkan kita
Ia mencipta keterpisahan untuk menguji kesetiaan
Ia mencipta rindu untuk bersabar terhadap temu
Ia mencipta ragu dalam setiap sudut keyakinan di ruang tunggu


-aliflifa-


Rabu, 17 Februari 2016

Untitled

Entah apa yang harus aku lakukan saat hari-hariku sudah tak ada lagi kamu di dalamnya. Mungkin, sudah tak akan ada lagi keheningan yang tercipta saat kita sama-sama berhenti bercerita. Tak ada lagi debar bahagia saat kita berbagi suka. Tak ada lagi rasa penasaran saat salah satu dari kita menyimpan rencana.

Kehilangan. Seharusnya sudah bukan lagi hal yang tak biasa. Bukankan kita sama-sama pernah kehilangan ? Lalu membiarkan kehilangan benar-benar hilang hingga dirasa hampa. Rasanya lega saat kehilangan bukan lagi hal yang sulit untuk dilepaskan. Lantas mengapa sekarang kehilangan menjadi sesuatu yang mulai begitu menakutkan.

Seharusnya mudah bagi kita untuk melalui ini semua. Mudah jika kita tak sama-sama memperjuangkan ego yang ada. Lantas, mengapa kesibukan masih dianggap sebagai penghalang. Lalu, mengapa rindu dianggap sebagai pengganggu. Bukankah seharusnya kita sama-sama mengerti. Bahwa aku masih seorang perempuan yang selalu mengandalkan perasaan, Sedangkan kamu, lelaki dengan pikiran sebagai pondasi. 

Terlalu banyak kemungkinan yang bisa terjadi. Bagaimana jika nantinya kamu terbiasa dengan segala pekerjaan hingga lupa ada seseorang yang senantiasa mendoakan agar segala urusanmu dimudahkan. Bagaimana jika nantinya aku akan terbiasa sendiri tanpa peduli ada atau tak adanya kamu di sisi. Bagaimana jika nanti kita bukan lagi kita yang saling berbagi, melainkan kita yang hanya berfokus pada diri tanpa memikirkan satu sama lain lagi. Sungguh, bukan ini yang aku ingini.

Jika bukan kamu lalu siapa lagi. Dalam semua rencana kedepanku saat ini adalah kamu yang menjadi peran utama. Jika bukan kamu, maka rencanaku akan berlalu. Karna kamu bukan hanya bagian dalam semua rencanaku. Kamu adalah rencana itu. 

Jangan hanya berkata tak menyakiti namun diam-diam malah membuat luka di hati.
Jangan hilang tanpa mengabari, kamu tak mengerti bagaimana sulitnya aku mencari.
Jangan datang kembali hanya untuk pergi lagi, tingkahmu yang seperti itu membuat dadaku nyeri.

Aku masih di sini,
Dengan kesabaran yang masih bertahan.
Dengan rindu yang begitu menggebu.
Dengan cinta yang masih sama seperti sedia kala.
Dengan harapan yang semoga bisa lekas terwujudkan.
Dengan kesetiaan yang masih untukmu seorang.

Jumat, 05 Februari 2016

Aku Mencintaimu,

Kamu,
Duduklah sebentar, luangkan waktumu untuk membaca suratku. Tenang saja, tak sampai berjam-jam lamanya.

Jika katanya cinta tak butuh alasan, mungkin bisa benar bisa juga tidak. Jika cinta memang tak butuh alasan bagaimana bisa kamu memilihnya ? Pasti ada satu atau lain hal yang pada akhirnya membuatmu menjatuhkan hati padanya.

Aku mencintaimu. Karena itu aku memilihmu. Kamu tahu sendiri kan, aku tipikal perempuan yang sulit sekali untuk bertahan pada suatu pilihan. Aku selalu membuka hidupku pada siapa saja yang ingin memasukinya, tapi tak semua aku izinkan untuk tinggal di dalamnya. Pada akhirnya waktu akan menunjukan siapa yang bisa bertahan atau siapa yang bisa membuat pemiliknya nyaman. Semoga saja itu adalah dan selalu kamu.

Aku mencintaimu. Alasanku sederhana, hanya kamu. Kamu dengan sikap pendiammu yang begitu sulit untuk ditebak. Kamu dengan segala macam tembok penghalang hingga orang-orang sekelilingmu sulit untuk melihatmu. Kamu dengan segala rutinitas dan kesibukanmu.

Aku mencintaimu. Aku suka melihat caramu berjuang di masa lalu dan caramu dalam berusaha untuk menggapai sesuatu. Semua berhasil membuatku terharu.

Aku mencintaimu. Atas segala kecuekanmu dan keasikanmu pada duniamu. Lama-lama aku terbiasa dengan hal itu. Asal kamu tidak sampai melupakan aku.

Aku mencintaimu. Yang aku sadari, aku akan menyesal jika hari ini atau nanti aku tak memilihmu. Betapa bersyukurnya aku bisa bersamamu saat ini dan semoga saja sampai nanti.

Jangan pernah bosan dengan perempuan yang membosankan ini, ya.


#30HariMenulisSuratCinta Hari ke-6


Kamis, 04 Februari 2016

Permintaanku Sederhana,

Permintaanku sederhana,
Kau tetap bertahan saat semua kerapuhan yang ada telah ku tunjukkan. Menguatkannya kembali mudah saja, cukup hadirmu yang selalu ada. Tak melulu dengan rupa, hanya suara dan kata-kata pun aku sudah bahagia.

Permintaanku sederhana,
Kau akan selalu ada, tak peduli bagaimana kondisiku nantinya. Aku hanya membutuhkanmu di sana. Di setiap tawa yang tercipta maupun di setiap sakit yang diderita.

Permintaanku sederhana,
Kau akan selalu memperjuangkanku dengan sebagaimana mestinya. Akan tiba masanya kita akan dilanda kebosanan. Bisakah kau tetap membiarkannya ada dan berjuang untuk kembali menikmati masa-masa bahagia. Sehebat apapun lelaki yang menginginkanku, aku ingin hanya kamu yang tak pernah lelah untuk memperjuangkanku.

Permintaanku sederhana,
Kau akan menjadikanku satu-satunya. Nanti akan ada masa di mana kamu akan menemukan perempuan yang lebih baik atau bahkan lebih hebat daripada aku. Namun yang ku butuhkan kau tetap memilihku.

Permintaanku sederhana,
Tetaplah menjadi lelakiku. Teman terbaikku dan (kelak) teman hidupku. Menjadikan aku satu-satunya perempuan yang kamu cinta dan menjadi tujuanmu dalam fase hidup ke depannya.

Permintaanku sederhana,
Hanya kamu satu-satunya lelaki yang ku harapkan untuk mewujudkan semuanya dan segalanya tentang kita.


#30HariMenulisSuratCinta Hari ke-5

Rabu, 03 Februari 2016

Untuk Adikku

Teruntuk adik lelakiku,

Dulu kamu hanyalah anak laki-laki kecil yang begitu cengeng, yang sering sekali pulang cepat diantar oleh wali kelasmu saat duduk di bangku taman kanak-kanak. Kamu memang tak pernah membuat masalah, tapi mengapa kamu dulu bisa secengeng itu ? Kamu pun memiliki teman dekat yang selalu ada di sampingmu. Berangkat dan pulang bersama. Tak kan ada anak-anak nakal yang berani mengganggumu saat itu.

Di bangku sekolah kamu hanyalah murid dengan kepintaran rata-rata. Ingatkah bagaimana kamu merengek meminta kakakmu mengerjakan setiap pekerjaan rumahmu ? Jika aku tak mau pastilah aku yang terkena ceramah oleh mamah. Ah kamu itu memang benar-benar anak bungsu. 

Ingatkah kamu saat mamah mencarikan guru mengaji yang bisa dipanggil ke rumah ? Kita berdua sama-sama tak mau menjadi anak yang mengaji pertama. Lalu saat guru mengaji itu mulai melakukan tes bacaan shalat kamu masih terbata-bata melafalkannya.Aku pun mengomelimu, bagaimana bisa bacaan yang umum saja tidak bisa.

Kamu selalu memintaku untuk mengajarimu semua mata pelajaran terutama matematika. Entah kenapa kamu harus membenci matematika seperti anak lainnya. Tetapi kamu pandai dalam menghafal dan mengarang cerita. Sedangkan aku, payah sekali dalam hal semacam itu.

Kini, semua sudah berubah. Kamu bukan lagi adik laki-lakiku yang cengeng tapi kamu tetap saja tidak mau mengalah. Kepintaranmu mungkin hanya dalam kisaran rata-rata, tapi kamu memiliki keberuntungan yang luar biasa. Jika dulu kamu begitu terbata-bata melafalkan hafalan shalat, kini kamu adalah adik laki-laki yang begitu berguna. Kamu melakukan mentoring sana-sini dan menjadi murabbi bagi adik-adik kelas di bawahmu. Tetaplah menjadi anak leki-laki yang shalih dan tetaplah sabar dalam menuntun kakak perempuanmu ini ke jalan yang diridhai illahi. 

Salam Sayang,
Kakak Peremuanmu Satu-satunya

#30HariMenulisSuratCinta Hari ke-4

Selasa, 02 Februari 2016

Selamat Ulang Tahun,

Sudah hampir pukul delapan malam. Kurang dari lima jam lagi hari ini akan berakhir. Namun aku belum mengirimkan sepatah kata pun di hari kelahiranmu. Maaf, ya. Bukannya aku lupa, aku hanya sengaja untuk pura-pura lupa. Tapi tetap saja seharian aku dibayangi oleh ucapan-ucapan yang ingin ku kirimkan. Meski mungkin nantinya ucapanku ini bukan ucapan yang begitu puitis, tapi dengan senang hati akan tetap ku tulis.

Selamat ulang tahun, kamu.
Dua-puluh-lima-tahun-mu ini semoga menjadi usia yang senantiasa membuatmu bahagia. Waktu yang kita punya sangat sedikit. Kita tahu persis bahwa pertemuan kita selalu dapat diukur dalam hitungan menit. Namun kali ini, meski tanpa temu, kue, lilin dan hadiah. Aku di sini dengan doa dan harapan agar kamu senantiasa diberikan kekuatan dalam menghadapi beban keseharian yang semakin hari semakin bertambah beratnya, diberikan kesehatan untuk terus membahagiakan ayah-ibu beserta saudaramu dan semoga saja termasuk aku, dilimpahkan rezeki yang halal untuk bisa mencukupi kebutuhanmu sendiri dan orang-orang lain di sekelilingmu yang tentu saja membutuhkan bantuanmu ini.  

Tetaplah menjadi lelaki pembelajar, karna ilmu tak akan pernah selesai meski terus dikejar.
Tetaplah menjadi lelaki yang tak kenal lelah, karna yang kamu miliki sekarang tak lepas dari hasil jerih payah.
Tetaplah menjadi lelaki yang tak pernah menyerah, kamu boleh berkeluh kesah asal jangan membuatmu semudah itu menyerah karna kamu tak akan pernah tau apa kebaikan yang akan kamu dapat saat kamu menyerah.
Tetaplah menjadi lelaki yang rendah hati. Dagumu tidak boleh merendah tapi jangan pula sampai meninggi. 
Tetaplah menjadi kamu. Kamu yang tetap menjadi dirimu sendiri, tapi jangan sampai tak mau mendengar kritik dari orang sekelilingmu.

Berbahagialah, karena akan selalu ada yang mencintai dan mendoakan segala yang baik untukmu.


Bogor, 02 Februari 2016

Alif.

#30HariMenulisSuratCinta Hari ke-3

Senin, 01 Februari 2016

Merindu

Selamat Datang Februari,

Bulan yang kata semua orang adalah bulan penuh cinta. Bagiku semua bulan sama saja, yang berbeda mungkin hanya berapa banyak tanggal merah di dalamnya. Awal Februari diawali dengan hari senin dan pagi hari diiringi rintik gerimis. Suasana ruangan kerjaku pun semakin menjadi dinginnya ditambah dengan kondisiku yang ikut terserang penyakit flu. Tapi sebentar, surat ini takkan bercerita tentang aku, ataupun datangnya bulan baru. Aku akan menulis sedikit tentang rindu yang tertuju padamu. Ya. Kamu. Surat ini masih untuk kamu.

Bagaimana kabarmu hari ini ? Sungguh seharian aku diselimuti rasa rindu menunggu kabarmu yang tak kunjung berseru. Mungkin kamu sedang berbahagia dengan rutinitasmu sehingga tak satupun kata terkirimkan padaku. Atau mungkin saja di sana sedang ada kabar yang tak seharusnya diketahui olehku. Terlalu banyak kemungkinan-kemungkinan yang mengitari ruang pikiranku. Hingga aku sadar bahwa aku tengah merindu. Geli sekali aku rasanya menuliskan ini. Tak ubahnya seperti para remaja yang sedang dimabuk cinta.

Hari ini hampir tak ada satupun notifikasi darimu yang tertera di ponselku. Aku mulai tak karuan. Merasa kesal, menyusun rencana membalas dendam untuk mengabaikan pesanmu atau hanya menjawab singkat dengan kaya 'iya'. Namun sayangnya tak ada namamu yang muncul di layar. Dengan rintikan suara hujan dan dinginnya malam, aku tetap menanti, mendekap sunyi diri sendiri, hingga mungkin aku terlelap dengan sendirinya dan keesokan harinya aku sadar bahwa semalam aku tak menemukanmu, aku hanya ditemani rindu.



#30HariMenulisSuratCinta Hari ke-2
Surat ini tak dikirimkan melalui tukang pos karena sudah kehabisan waktu.


Minggu, 31 Januari 2016

Terima kasih, telah hadir kembali.

Seamat sore,

Kala kali pertama aku kembali menulis surat setelah sekian lama tak pernah menyusun rangkaian kata yang mereka bilang adalah surat cinta. Sore ini aku kembali lagi. Kembali menulis, kembali membuka kisah manis, dan kembali mengukir kisah cinta yang semoga saja romantis.

Maafkan aku karna aku tlah membuatmu begitu tak menentu dengan melarikan diri dari kisah yang pernah kita satukan dulu. Membuatmu menjadi seorang diri mengenang kata-kata puitis yang pernah ku tulis. Menjadikan aku sesadar-sadarnya perempuan yang begitu egois.

Terima kasih, karna telah hadir dalam hidup perempuan yang dipenuhi kisah mengharu biru dengan masa lalu yang begitu abu-abu sepertiku. Adalah kamu, yang bersabar menunggu meski aku berlalu, yang kembali meraih tanganku saat aku sudah hampir jatuh, yang bersedia menggenggam tanganku kemana aku ingin melaju.

Terima kasih telah kembali menjadikan kita satu. Menjadikan kamu satu-satunya lelaki yang aku tunggu dan menjadikan aku perempuan kedua yang kamu rindu setelah ibumu. Mulai saat ini mari kita sama-sama melafalkan doa-doa baik untuk kemudian didengar oleh langit dan tercatat dengan baik. 

Aku akhiri surat ini dengan senyum bahagia mendapatimu hadir kembali. Terima Kasih, lelaki baik.


With Love,
Alif

#30HariMenulisSuratCinta Hari Ke-1

Jumat, 22 Januari 2016

Dirawat Ketika Jatuh Sakit

Setahun lebih yang lalu, sekitar satu bulan sebelum seminar tahap satu dimulai saya terserang penyakit typus. Awalnya saya pikir hanya gejala yang tujuh hari sudah bisa sembuh. Tapi ternyata sampai dengan dua minggu saya tidak dapat bangun dari tempat tidur. Akhirnya orang tua saya memutuskan untuk check-up ke rumah sakit setelah sebelumnya sudah sempat ke klinik. Di rumah sakit saya harus menunggu sekitar 15 menit lalu dokter melakukan penanganan kepada saya. Belum beranjak dari tempat tidur, dokter meminta izin untuk melakukan cek darah. Saya sudah pasrah dokter mau melakukan apa. Menunggu hasil cek darah keluar saya tak henti-hentinya keluar masuk toilet untuk membuang air liur. Entah mengapa sepertinya produksi air liur saya pada saat itu terlalu berlebih sehingga membuat saya harus sering-sering meludahkannya. Kondisi saya pun lemas-selemas-lemasnya karena selama sakit tak ada makanan yang bisa diterima perut saya, selain obat-obatan. Hasil lab. keluar dokter menyatakan saya terserang typus dan kekurangan cairan (saya memang tidak pernah minum air putih) sehingga harus dirawat. Behubung kamar sudah penuh saya disarankan untuk melakukan rawat jalan.

Keesokan harinya kondisi saya semakin parah, yang saya rasakan hanya uring-uringan, menangis, mengeluh, badan saya sudah tak terasa ada bobotnya, ditambah kondisi perut yang kosong. Orang tua saya menghubungi rumah sakit, kabar baiknya ada satu orang yang hari itu akan keluar. Bersiaplah saya untuk ke rumah sakit. Baru saja saya berdiri rasanya saya seperti melayang. Sudah tak kuat mengingjakan kaki di lantai. Akhirnya saya digendong menuju mobil untuk ke rumah sakit. Sesampainya di sana saya sudah disambut dokter dan perawat beserta kursi roda. Duduklah saya di kursi roda dan diantarkan ke kamar. Ah God, saya harus melakukan suntik lagi untuk diberikan cairan infus, cek darah lagi dan entah saya hanya ingin berbaring saja. Inilah pertama kalinya saya dirawat di rumah sakit.

Senin, 18 Januari 2016

Tentang bagaimana aku dan kamu

Perempuan dan laki-laki itu berada di lingkungan yang sama tanpa mengenal satu sama lainnya. Sebut saja perempuan itu aku dan laki-laki itu kamu. Kamu tak pernah sedikit pun terlintas dalam benakku. Tahu namamu saja tidak. Perkenalan kami dahulu mengalir begitu saja. Semua berawal dari saling sapa di sosial media, lalu bertemu kembali dan bertegur sapa memalui tatap muka.

Kamu adalah sosok laki-laki pendiam dalam dunia nyata dengan bebagai macam hal yang sepertinya lebih mudah untuk menuangkannya dalam rangkaian kata bukan suara. Berbicara seadanya dan sepentingnya saja. Aku pun bukan perempuan yang pandai berbicara dalam lingkungan yang entah bagaimana aku bisa berada di dalamnya. Jadi, bisa disimpulkan bahwa kami sama sekali jarang bertukar cerita.

Waktu berlalu.

Saat itu ada yang belum kamu tahu. Tentang bagaimana aku mulai mengagumi sosokmu. Menjadikan tulisan-tulisan singkatmu sebagai asupan yang tak pernah sehari pun terlewatkan untuk ku jadikan bahan bacaan. Tentang segala ceritamu yang tak sengaja melekat dalam ruang pikiranku. Tentang kamu yang tiba-tiba saja telah hadir dalam hati yang penuh akan kenangan masa lalu. 
Dan saat itu, sebelum kepergianmu. Semua yang belum kau tahu menjadi hal yang begitu telat diketahui dan menjadikannya sebagai hal yang berat untuk kamu melangkah pergi.

Setelah semuanya tak lagi menjadi rahasia. Kita menjadi sepasang manusia yang terikat dalam rasa dengan jarak ratusan kilometer jauhnya. Semuanya baik-baik saja sebelum akhirnya aku menghilang tanpa meninggalkan sebaris pesan perpisahan. Maaf, aku tak bisa bertahan.

Lalu, semesta menyatukannya kembali. Kali ini takdir benar benar sedang berbaik hati. Ada kata yang begitu tulus terucap olehmu dari hati. Sungguh tak ada perempuan yang tak senang mendengar hal ini. Tapi bagaimana bisa hati ini sesaat menjadi meragu, tak siap akan segala hal yang teniatkan olehmu. 

Seiring berjalannya waktu. Perasaan ragu tak lagi menyelimuti dalam diriku. Semua rasa takut seolah menghilang begitu saja dengan rasa yang berbeda dari sebelumnya. Aku ingin kamu. Ya, Kamu.
Ketika aku sudah meyakinkan diriku, kali ini berbalik kamu yang menjadi ragu. Oh semesta mengapa urusan rasa begitu sulit diterka ? Disaat kamu yakin aku malah meragu. Lalu disaat aku yang sudah yakin, berbalik kamu yang meragu. Apa perasaan memang sebercanda itu ? Mengapa perasan kita tak pernah berada dalam satu titik waktu yang tepat ? 




Minggu, 10 Januari 2016

22

Sebelum memulai menulis untuk pertama kalinya di tahun 2016, saya ingin mengucapkan Happy New Year! Walau masih gak paham sebenarnya apa yang harus diselamatkan.

Tahun baru untuk saya merupakan umur baru, berhubung jarak bertambahnya angka usia berdekatan dengan tanggal awal sebuah tahun dimulai. Tepat pada tanggal empat usia saya menjangkau angka 22. Tapi entah saya masih berasa bocah, untuk usia yang seharusnya sudah berpikir ya anggap saja fase pendewasaan saya malah masih bertingkah seenak jidat, semaunya--tapi masih dalam batas yang saya anut.