Pages

Sabtu, 20 April 2013

[BeraniCerita #8] Menyesal


“Ma Nisa berangkat ya daah”
“Iya hati-hati di jalan kak, awas pulangnya jangan lebih dari jam tiga sore”
“Sip ma”


Untuk keluar rumah Nisa perlu meminta izin dengan merayu mamanya selama dua hari. Wajar karna Nisa adalah anak perempuan satu-satunya. Kesempatan ini pun tak ingin dilewatkan oleh Nisa. Janjinya ia hanya bermain sampai dengan jam tiga sore tapi keinginan Nisa berkata lain. Nisa pun menunda jam pulang dan asik melanjutkan senda gurau bersama teman-temannya.

“Yah udah jam empat nih, gue udah telat sejam malah hape mati , gue duluan yah?”
“Yah gak seru nih, rumah lo kan setengah jam juga nyampe ngaret dikit mah wajar lah asal gak kemaghriban”
“Masalahnya gue ngeri juga sama nyokap hehe” (sambil cipika-cipiki teman-temannya).

Selama perjalanan pulang Nisa was-was dan sibuk membuat perkiraan dengan jarinya. “Diomelin. Enggak, diomelin, enggak….ah gak bakal deh kan jarang-jarang”.

Sesampainya di rumah .

“Habis ada tamu ma ? Darimana ?”
“Iya, tuh ada titipan buat kamu” (sambil menunjuk bungkusan yang ada di meja)

“Ibu habis dari sini ? Kok mama gak ngehubungin aku?”
“Tadi kamu janji pulang sama mama jam berapa ? Terus sekarang liat udah jam berapa ? Mama yang gak ngehubungin kamu atau kamu yang susah dihubungin?”

“Ternyata handphoneku mati, jelas saja mama tak bisa menghubingiku” Gerutu Nisa dalam hati.



Nisa masih terdiam sambil memandangi bingkisan dan cangkir dengan sisa lipstick merah muda. Dari sejak kecil sampai dengan menginjakan kaki ke Sekolah Menengah Atas Nisa memang di asuh oleh orang lain, bukan dengan ibu kandungnya sendiri.  Wajar jika Nisa hafal seluruh kebiasaan Ibu asuhnya yang sering menggunakan lipstick merah muda dan meninggalkan sisa lipsticknya di pinggiran cangkir teh putih. Nisa bergegas ke kamar dan membuka album kenangan berisi foto masa kecilnya dengan sang Ibu. Sambil membuka dan mengingat kenangan waktu kecilnya, tak sadar Nisa meneteskan air mata. Hampir empat tahun lebih Nisa tak bertemu dengan Ibu yang mengasuhnya dan memendam rindu yang mendalam. Kata andai pun kini bertumpuk di pikiran Nisa.



Jumlah kata 324.


Flash Fiction Berani Cerita Edisi #8

6 komentar:

  1. mmmmm... ane jadi hanyut habis baca.... gan...

    BalasHapus
  2. emm, penulisan dialognya sperti perpaduan drama dan cerpen :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. ini pertama kalinya nulis cerpen jadi ya gimana ya hehe
      terimakasihyaa :)

      Hapus
  3. Masih flat, mbak... Tapi bagus, kok! IMHO... ;-)

    BalasHapus
    Balasan
    1. iyah baru belajar juga soalnya hehe
      makasih :)))

      Hapus

Terimaksih sudah bersedia membaca. Silahkan tulis kritik-saran-pujian-pertanyaan di kolom komentar :)